Studi Kasus IMT Custome Machine Company, Inc (CMCI) dan Kasus VoIP2.biz, Inc.

Kasus IMT Custome Machine Company, Inc (CMCI)

IMT merupakan perusahaan manufaktur mesin dengan 3 Plant Prabik yang berada di Forth Wayne dan Chicago. Pada era pertengehan 1970 terjadi penurunan permintaan akan mesin akibat dari lambatnya pertumbuhan negara maju yang mempengaruhi industri manufaktur. Hal ini menyebabkan CMCI mengalami kelebihan produksi yang berpeluang pada kerugian perusahaan. Pesaing CMCI yaitu WILMEC pada tahun 1990 menanggapi fenomena ini dengan diversifikasi produksinya yaitu tidak hanya fokus pada mesin industri namun juga mesin teknik dan mesin manufaktur. Akhirnya kedua perusahaan tersebut bergabung dan melahirkan IMT.

June R. Page seorang VP CMCI tidak secara aktif memanfaatkan IS di IMT dan menggunakan Komputer sebatas untuk menyusun agenda, browsing dan penyusunan laporan. Page memberikan tugas dan wewenang kepada charles browing untuk menangani sistem informasi di Forth Wayne yang kemudian dibuat 2 grup meliputi engineer system dan management information system. Mulanya pada tahun 1999 CMCI menggunakan sistem berbasis mainframe untuk masing masing PC yang digunakan pegawai dalam setiap pekerjaannya. Selanjutnya pada 2001 berevoluis menjadi Computer Aided Design (CAD). CMCI pada saat itu juga menggunakan IBM AS/400 untuk mengelolaan sistem engineer secara umum. Dengan menggunakan main frame IBM CAD kapas CPU yang digunakan mencapai 65%. Karena masih terdapat sisa penyimpanan data yang tidak dipakai maka CMCI membuat kebijakan bagi siapapun yang memerlukan PC maka dapat memperolehnya dari perusahaan tanpa mempertimbangkan sisi finansial. %. Karena masih terdapat sisa penyimpanan data yang tidak dipakai maka CMCI membuat kebijakan bagi siapapun yang memerlukan PC maka dapat memperolehnya dari perusahaan tanpa mempertimbangkan sisi finansial. Pada tahun 2002 CMCI mulai beralih dari mainframe menuju workstation dengan menggunakan IBM sebanyak 6 workstation. Menurut Browning hasil dari penerapan sistem workstation, work around dan usaha yang keras akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Sehingga berdasarkan temuannya Browning ingin melanjutkan pengembangan sistem informasi tersebut namun terkendala pada pertanyaan dimana support engineer akan diposisikan. Jika mereka diposisikan pada Grup Support Sistem Engineer maka mereka akan memiliki otorisasi yang kuat. Jika diposisikan di Product Line maka permasalahan feedback dari sistem akan lebih cepat diatasi. Jika diposisikan pada Grup MIS mereka bisa mengakses seluruh komputer perusahaan dan dapat membantu mengtintegrasikan aplikasi perusahaan.

Lalu Tahun 2002 Perusahaan induk IMT-USA akan mengarahkan strategi IT nya ke UNIX dengan harga investasi mencapai 2,5 Juta Dollar. Browning menyarankan untuk membuat sistem aplikasi CRM untuk menghandle pelanggan mereka ynag disebut salesforce.com. Namun setelah berjalan ternyata Browning menemukan bahwa 25 % pendapatan Forth Wayne dan Chicago digunakan untuk mengembangkan sistem UNIX yang dikembangkan di jerman sedangkan permasalahannya Forth Wayne dan Chicago tidak memiliki background yang cukup untuk mengadopsi UNIX.

Browning menyarankan untuk tidak melakukan apa-apa, dan melihat pendekatannya. Tindakan ini layak, apalagi jika mengingat keputusan UNIX, dan konversi yang terjadi di kantor pusat perusahaan internasional. Namun, kantor pusat tidak memiliki cukup waktu dan sangat sedikit informasi langsung tentang hal ini. Menunggu tindakan kantor pusat bisa berarti menunggu sampai masalah mencapai krisis mencapai puncaknya. Pilihan lain yaitu dengan penggunaan lebih banyak mainframe. Langkah ini membantu untuk mengkonsolidasikan semua orang untuk proses yang sebelumnya, dan membantu membantu melalui kontrol pada proses, tetapi mainframe saat ini tidak bisa menshare informasi dengan baik,dan perlu pemrograman ulang yang signifikan untuk memperbaiki beberapa masalah kontrol terhadap proses.

Page sebagai VP dari Forth Wayne dan Chicago akhirnya menyadari bahwa sesungguhnya masa krisis dari Forth Wayne dan Chicago dikemudian hari akan datang dimana perusahaan tertinggal dalam hal sistem informasi dan tidak tahu harus berbuat apa. Page pada posisi ini juga tidak langsung keputusan dan saya setuju atas apa yang dilakukan page untuk tidak buru buru mengadopsi sistem informasi tanpa memiliki keyakinan yang kuat untuk menghandle sistem tersenut. Pertimbangan untuk menjaga kestabilan operasional perusahaan menjadi tumpuan utam bagi page seorang manajer perusahaan yang bertanggung jawab tidak hanya sebatas pada kemajuan sistem informasi perusahaan namun juga pada bagaimana perusahaan dapat bertahan hidup diera kemajuan yang sangat pesat. Yang sangat disayang kan adalah perusahaan tidak mendapat perhatian dari kantor pusat yang mana telah mengadopsi sistem informasi yang paling update. Forth Wayne dan Chicago terlihat sebagai perusahaan yang kurang bonafit dan yang mencenganngkan lagi adalah pendapatan Forth Wayne dan Chicago yang digunakan untuk pengembangan sistem yang tidak bisa mereka gunakan. Saran saya dalam menanggapi kasus ini adalah bahwa seorang manajer tidak hanya terlalu berfokus untuk membenahi kondisi internal namun juga seorang manajer harus dapat membagi perhatiannya untuk melihat perkembangan di dunia luar setidaknya seorang manajer dapat melihat dan menangkap sinyal sinyal peniting dalam lingkungannya sendiri. Kaitannya dengan Support Sistem Engineer Group dalam kasus ini harus diidentifikasi faktor apa yang menyebabkan perusahaan tidak dapat mengadopsi UNIX. Dan pemberian otorisasi yang kuat bagi divisi tersebut untuk melakukan usaha agar sistem informasi perusahaan dapat mengejar ketertinggalannya. Page perlu menamah auditor internal untuk menginvestigasi proses bisnis perusahaan agar sinyal sinyal negatif yang mengancam kemajuan perusahaan dapat diidentifikasi lebih cepat dan menyeluruh.

Kasus VoIP2.biz, Inc.

VoIP2.biz, Inc. Merupakan perusahan integrator sistem yang berinovasi mengubah dari teknologi komunikasi suara ke teknologi VoIP. Manajemen berencana untuk opportunity pasar berdasarkan 5 hal yaiutu: 1. Banyak perusahaan yang masih memisahkan antara jaringan suata, jaringan data dan jaringan internet,2. Jika teknologi PABX laku maka peluang lain selain biaya pemasangannya mahal namun biaya perawatan PABX juga menggiurkan.3. Perusahaan memilikipelanggan yang berpotensi yaitu perusahaan yang menggunakan jasa sistem komuikasi suara VoIP. 4. Peluang lainnya yaitu kebanyakan pelanggan VoIP yaitu perusahaan besar dengan pegawai mencapai 100 orang tentunya kebutuhan PABX juga semakin terbuka. 5. Pelanggan mereka rata rata kurang menguasai jaringan sehingga VoIP dapat membantu mereka dalam pembuatan keputusan via Telp.

Pada tahun 2004 dilakukan investigasi pada software dan implementasi VoIP dan ditemukan bahwa terdapat kesempatan untuk memangkas biaya dengan cara membuka source platform software dan bekerja sama dengan Harley Services Corporation (HSC). Pada tahun 2005 dirilislah VolP2.biz diluncurkan dengan skema Plan Tahap I yaitu dengan target perusahan kecil dan menengah untuk melayani jasa jaringan telp internal yang dapat mengurangi 10-30% biaya jaringan telp tradisional. Pada Akhirnya Plan Tahap I telah selesai dan dievaluasi keuangannya dan ditemukan perusahaan dirugikan pada tahun 2005 dan juni 2006. Pada Tahun 2006 VoIP2.Biz melakukan inisiasi untuk mengatasi kegagalan Plan Tahap I yaitu dengan:

  1. National Hosted VoIP Solution Providers
  2. Incumbent Local Exchange Carriers (ILECs)
  3. Competitive Local Exchange Carriers (CLECs)
  4. Cable Companies
  5. Internet Service Providers (ISPs)
  6. Interconnects and PBX VARs
  7. Data Networking Solution Provider

7 Strategi diatas disebut sebagai Plan Tahap II melalui insentif perlusan penjualan jasa hingga ke indianapolis dengan sistem penualan per minggu. Inti pada plan tahap II adalah ekspansi usaha secara geografis untuk mendongkrak pendapatan. Hal ini tentunya membutuhkan support sistem engineer , jaringan serta provisi yang memadai.Selain itu, VolP2.Biz juga memiliki inovasi yaitu usaha franchise dengan jenis service direct mailing dan pangggilan telpon pada pelanggan institusi/korporasi yang berukuran kecil dan sedang. Intuk menjalankan directselling maka pada plan tahap II menggunakan fasilitas sepertil Wartel dan Telpon umum (Telco in the Box). Pada Plan Tahap II juga melakukan usaha advertising dan promosi untuk memperkenalkan manfaat dari VoIP2.Biz. Operional pada VoIP2.Biz menyediakan solusi jaringan data dan suara yang kompleks.

Investasi yang dibutuhkan untuk implementasi VoIP2.Biz membutuhkan investasi senilai $3 juta. Untuk PlaN Tahap II dapat terealisasi, Milkowski sebagai penanggung jawab memulai memikirkan bagaimana dewan direksi menyetujui rencana tahap II dengan mempertimbangkan apakah perubahan dan kemajuan teknologi dapat diterima tanpa mengorbankan jumlah uang yang besar. Sejak VoIP2.Biz melakukan go Publik dan melakukan Initial Public Ofering maka dewan direksi mulai bagaimana VoIP2.Biz tidak terlihat terlalu spekulatif dimata para pemegang saham. Jika Plan Tahap II tidak ditindaklanjuti, Milkowski khawatir bahwa perusahaan tidak dapat menjual jasa secara maksimal dan kekhawatiran akan minimnya arus kas positif. Milkowski juga khawatir jika perusahaan terus terpuruk maka mereka akan mengalami kebangkrutan dan akan menyebabkan banyak pegawai kehilangan pekerjaannya.

Dalam hasil pemikirannya milkowski merasa kebingungan dan akhirnya berpikir bagaimana jika perusahaan diakuisis saja oleh perusahaan lain demi menyelamatkan perusahaan. Milkowski mempertimbangkan bagaimana caranya agar dana investor lama dapat tertutupi dengan dijualnya perusahaan ke perusahaan lain. Namun akhirnya VoIP2.Biz tidak menjual sahamnya ke perusahaan lain namun VoIP2.Biz menjalin kontrak kerjasa jasa dengan perusahaan lain dan perusahaan bisa terselamatkan. Dalam sudut pandang saya milkowski telah melakukan hal yang benar untuk menyelamatkan perusahaan. Pada saat perusahaan kritis memang seorang manajer harus meiliki banyak alternatif untuk mengatasi masa kritis. Integritas milkowski untuk menyelamatkan perusahaan dapat menjadi contoh bagi para manajer untuk berpikir keras kearah kebangkitan dari keterpurukan. Saran saya dalam kasus ini adalah bagi manajer manajer yang berprestasi diberikan insentif yang dapat meingkatkan motivasi manajer untuk menambah semangat usaha seorang manajer.

Leave a Reply

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE