Krisis Lingkungan: Katalog Singkat Mengenai Berita Buruk ETIKA LINGKUNGAN

Menghadapi masalah

Apa tantangan mengenai lingkungan yang harus ditangani oleh generasi kita? kita tidak bisa mulai memahami masalah lingkungan tanpa dasar yang kuat dalam hal yang sebenarnya dari lingkungan yang sehat dan siklus yang saling berhubungan. Tapi kita harus mengetahui beberapa pengertian tentang masalah utama yang terjadi, jika hanya untuk mencari tahu apa yang perusahaan harapkan untuk menangani masalah dalam waktu dekat dan menengah. Ini hanya sebuah contoh dari masalah lingkungan yang harus segera diselesaikan. Untuk memudahkan, kita akan mengadopsi dari pengertianyang disarankan oleh ahli ekologi dalam, dalam perspektif 8 : kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh manusia dapat disamakan dengan kerja kanker dalam tubuh manusia, kanker mematikan, dan dapat membuat orang meninggal. Apa yang sel kanker lakukan sehingga bisa membuat kematian?desakanker3-newscientist-

Kadang-kadang kanker hanya perubahan metabolisme dari seluruh tubuh. Sama halnya, pelanggaran terhadap lingkungan dan yang paling pertama dalam berita utama, adalah perubahan iklim, pemanasan global dikarenakan efek dari aktivitas manusia. Kita tahu bagaimana itu terjadi. Sebagian panas yang diterima dari matahari tidak diserap di bumi tetapi dipantulkan kembali ke angkasa. atmosfer, terutama gas CO2, karbon dioksida, produk dari respirasi semua makhluk hidup, menangkap beberapa refleksi itu dan mengirimkannya kembali ke bumi sebagai penghangat. Itulah mengapa hidup mungkin tanpa atmosfer, matahari dapat bersinar, namun tidak satupun dari panas yang akan dipertahankan. Itulah yang disebut “masalah” dari efek rumah kaca, dan kita semua hidup di dalamnya. Masalah akan muncul ketika kita terlalu banyak melakukan sesuatu. Ketika CO2 menumpuk di atmosfer, terutama disebabkan oleh bahan bakar, seluruh bumi akan panas.

Pelanggaran kedua, kita mengenali kanker, yang populasinya semakin banyak, dengan pertumbuhan yang cepat, massa jenis sel tertentu, yang menjadi penting untuk kekebalan tubuh. Jika tidak ada yang lain, sel tersebut dapat digantikan oleh organ lain, pembuluh darah, atau dalam kasus lingkungan, habitat spesies lainnya.

Jumlah manusia di bumi semakin lama semakin bertambah. Tahun 190-an bias mencapai 2 miliar, tahun 1960 mencapai 3 miliar, tahun 1976 4 miliar, tahun 1989 mencapai 5 miliar, tahun 1999 mencapai 6 miliar. Itu merupakan peningkatan yang sangat pesat dari tahun ke tahun. Kita juga dapat berekspektasi pada tahun 2020 nanti akan berjumlah 7 miliar orang. Tetapi PBB sememperkirakan hanya aka nada 8,9 miliar orang di tahun 2050. menurut World Development Report , 1,2 miliar orang dari 6 miliar orang yang ada di dunia sekarang ini hidup dengan kurang dari $ 1 per hari, dan 2,8 miliar orang hidup dengan kurang dari $ 2 per hari.

Sebenarnya, jumlah penduduk harus dimodifikasi untuk memperhitungkan bahwa beberapa dari mereka jauh lebih berbahaya daripada yang lain. Karena manusia menjadi dampak bagi bumi sehingga bumi tidak berfungsi sebagaimana fungsinya, satu manusia satu dampak: manusia yang makmur adalah yang mengkonsumsi banyak unit dari sumber daya yang ada. Selanjutnya, teknologi juga yang menambah penurunan fungsi dari lingkungan yang dapat menyebabkan populasi dari sumber daya yang dikonsumsi. Jika kelebihan jumlah penduduk merupakan pelanggaran kedua, yang ketiga adalah penipisan sumber daya, yang berasal dari monopoli sumber daya tubuh atau bumi. Jika dianalogikan dengan kanker, maka penipisan sumber daya ini sama dengan rusaknya organ-organ dalam tubuh dikarenakan digerogoti oleh kanker. Manusia hanya salah satu diantara jutaan spesies yang ada di bumi, yang menggunakan 40% sumber daya yang ada. Sejak tahun 1950 penggunaan berbagai hasil alam meningkat seperti kayu yang meningkat 3 kali lipat, kertas 6 kali lipat, tangkapan ikan yang meningkat hampir 5 kali lipat, konsumsi gandum 3 kali lipat dan pembakaran bahan bakar fosil yang merupakan sumber daya tak terbarukan yang meningkat 4 kali lipat.

Kategori utama berikutnya dari masalah adalah polusi : udara, air, dan bumi itu sendiri. Ketika sebuah tumor tumbuh, ini memberikan limbah produk, racun yang dapat merusak kemampuan fungsi hati. Ketika manusia berkembang, mereka mengeluarkan limbah-limbah produk juga. Polusi udara termasuk “efek rumah kaca” yang menyebabkan pemanasan global. Polusi udara juga datang dalam bentuk bintik-bintik kecil, partikulat, yang menyerang paru-paru. Atmosfer tidak hanya menerima limbah produk dari perusahaan kita. Perairan sungai, sungai dan laut telah ditenggelamkan oleh industri kami dan selokan selama kurang lebih dua abad. Diantara yang terburuk dari polusi air adalah patogen, kuman, kehidupan mikroba yang menyebabkan penyakit pada manusia jika meminum airnya. Bahan kimia presisten seperti polychlorinated biphenyls (PCBs) tidak mati, setidaknya tidak dalam waktu sesungguhnya penggunaan manusia. Bahan kimia tersebut ditemukan dan diproduksi sepanjang pertengahan abad ke duapuluh, dinilai sebagai isolator dan lubricator untuk mesin justru karena mereka bereaksi dengan apa-apa, tidak pernah berubah, dan tidak pernah rusak – sekali mereka dimanasaja, mereka ada disana, untuk semua tujuan praktis, untuk tinggal. PCB menunjukkan banyak masalah khas polutan organik yang presisten (POPs): mereka tidak larut dalam air, tetapi larut dalam lemak, jadi ketika ikan menelan mereka dengan makanan, mereka menumpuk di lemak tubuh ikan. Ketika burung memakan ikan, mereka menumpuk di burung itu, lebih banyak PCB dengan setiap makan ikan, dan disana mereka tinggal. Jika kita makan ikan, hal yang sama terjadi pada kita; PCB berkumpul di lemak dan di seluruh tubuh yang mengandung lemak – seperti contohnya, ASI dari ibu menyusui. Ada bukti bahwa mereka akhirnya melampiaskan malapetaka pada sistem hormonal tubuh; dan kita tidak tahu bagaimana menyingkirkan mereka. Tanah, juga terakumulasi polusi. Hal yang paling terlihat di cakrawala adalah “tempat pembuangan sampah”. Sebelum konsumen mulai merasa bersalah karena hal itu, ini harus menunjukkan bahwa hampir 99% dari limbah tersebut berasal dari pertambangan, minyak dan produksi gas alam, pertanian dan kegiatan industri lainnya. Limbah pertambangan merupakan limbah yang terburuk. Upaya untuk mengurangi polusi dari tumbukan besar sampah ini (dan bagian yang tidak ada limbah tambang meliputi) pusat pada alternatif seperti pemadatan limbah dan membakarnya sebagai bahan bakar untuk proses pengolahan limbah; daur ulang mungkin akan lebih efektif.

Setelah meracuni udara, air, dan bumi, masalah yang paling serius berikutnya adalah kepunahan spesies, hilangnya keanekaragaman hayati dunia secara cepat. Kanker diam-diam memindahkan dan menghancurkan bagian tubuh dari yang mengkonsumsi, sehingga umat manusia tampaknya akan mengganti terlalu banyak hewan dan tanaman yang telah ada di bumi selama ribuan tahun dibandingkan kita. Sebagian besar kehilangan spesies tersebut adalah tentang kerusakan habitat. Menurut Institusi World Resources, 7-8% dari spesies hutan tropis akan punah setiap dekade pada tingkat sekarang dari hilangnya hutan dan gangguan. Itu sekitar 100 spesies per hari. Sejak tahun 1950, hampir sepertiga dari hutan tropis yang ada sudah ditebang, dan tanah berubah untuk fungsi yang lain.

Keluhan keenam dan terakhir dari sampel penyalahgunaan lingkungan ini adalah pemborosan energi, penyalahgunaan sistematis energi diseluruh dunia. Matahari tidak hanya memberikan kita kehangatan dan cahaya, ini hanyalah satu-satunya sumber yang kita punya sebagai energi untuk beraktivitas. AS, dengan hanya 4,6% populasi dunia, menggunakan 24% energi komersial dunia, terutama bahan bakar fosil. Tidak ada penggunaan energi kita yang sangat efisien. 84% dari semua bahan bakar komersial (bahan bakar fosil dan nuklir) disia-siakan. 41% energi yang penting hilang; oleh hukum kedua dari termodinamika, tidak ada transformasi energi dari satu bentuk ke bentuk lain yang benar-benar efisien.

Kasus Environmentalisme

Environmentalisme tidak hanya pada posisi politik, diadopsi dari sebuah visi dari kepentingan publik. konsep environmentalisme tidak mencakup hubungan antara advokasi dan keuntungan ekonomi tipe dari kelompok kepentingan khusus. Bagaimana lingkungan yang melihat situasi dewasa ini? seperti ini: Kita berada dalam mobil, meluncur turun gunung menuju tebing dimana mobil akan terjun ke laut tanpa dasar. Kita semua penumpang yang duduk dikursi belakang, sementara yang duduk di kursi depan merupakan pemilik perusahaan dan pemerintah, mengobrol ramah. Akan sangat sulit untuk melihat siapa yang sedang mengemudi.

Agak mengherankan, sudut pandang ini tidak dimiliki oleh orang-orang yang ada didepan. Mereka tampaknya berpikir bahwa mobil ini akan menaiki gunung, dalam proses kemajuan manusia, yang mempercayai bahwa menebang hutan, membersihkan ladang dan pembendungan sungai dapat membuat suatu bangsa menjadi lebih kaya atau sehat. Mereka tidak. Penghancuran modal kerja bangsa dan menggadaikan masa depan. Tetapi orang-orang didepan juga tidak tahu ini, atau mereka tidak peduli. Mereka melakukan dengan sangat baik pada rute ini – dimana mereka melihat sebagai menciptakan nilai dan melihat penjarahan lingkungan seperti yang direncanakan – dan mereka tidak merasa perlu untuk mengehentikan mobil. Mereka berpikir bahwa keluhan penumpang hanyalah a lil bit nutty, pembenci perusahaan, tree huggers, ideologi politik, atau yang lebih buruk lainnya.

Pastinya, sebagian besar penumpang dibelakang tidak mengeluh. Sebagian besar dari mereka begitu peduli dengan hari-hari bertahan hidup mereka bahwa mereka tidak memiliki waktu untuk mengeluh terhadap apapun, dan angka yang pasti dari mereka yang tetap yakin (mungkin dibayar oleh orang-orang yang didepan) bahwa mata pencaharian mereka bergantung pada menentang kacang yang mengeluh. Tetapi pengeluh melihat dengan sangat jelas penurunan dari kondisi untuk eksistensi manusia dan memang semua kehidupan di planet ini, dan mereka tidak tergoyahkan; mereka memiliki pengikut.

Masalahnya bukan bahwa lingkungan memiliki “posisi politik” bahwa ia menolak untuk “kompromi”. sikap jenius dari pemerintahan demokrasi merupakan kompromi yang dapat dipahami. Tetapi pemahaman tidak tersedia, mengingat sifat masalah lingkungan. Pertimbangan penimpisan sumber daya, mengatakan, penebangan pertumbuhan hutan yang sudah tua. Jika lingungan yang enggan setuju untuk membiarkan orang-orang mengambil 50% kayu dari hutan dengan syarat bahwa mereka akan meninggalkan sisanya, ada 50% yang pergi dari hutan. Tetapi penebang tidak hanya perlu pekerjaan ini sementara. Mereka butuh pekerjaan selamanya. 2 tahun dari sekarang, ketika 50% yang mereka ambil semuanya hilang, mereka akan kembali dan menebang sisanya. Dan tahun tahun berikutnya, ketika semuanya hilang, mereka akan meminta untuk “kompromi” lain. “Kompromi” kompromi terjadi di masa depan antara bumi dan umat manusia dengan itu; lingkungan tidak bisa kompromi.

Apa yang pencinta lingkungan inginkan? Mereka ingin keselamatan dunia. Mobil melesat menuju kehancuran, dan mereka ingin menghentikan hal itu. Jika mereka tidak dapat melakukannya, setidaknya mereka dapat memperlambatnya.

Kasus 3: Kera Besar Sebagai Hewan Liar

Simpanse“Pada pembersihan hutan di daerah aliran sungai Kongo”, Laura Spinney menulis. “pemburu lokal menggelar pasar ilegal sebanyak 2 kali dalam sebulan dengan pekerja dari konsesi penebangan terdekat untuk perdangan daging satwa liar untuk amunisi, pakaian dan obat-obatan. Diantara bankai yang telah berpindah tangan adalah simpanse, gorila dan bonobo (simpanse kerdil), semuanya merupakan spesies dilindungi.

Tidak mudah untuk memberi tahu orang-orang dalam kemiskinan untuk tidak berburu monyet dan kera. Mereka merupakan makanan tradisional di Afrika Tengah, dan para pemburu, “mereka hanya binatang”. Pemburu akan mendapatkan $60 untuk gorila dewasa, dan simpanse dewasa akan membawa hasil yang hampir sama. David Brown sebagai delegasi pemerintah Inggris untuk Konfersi Perdagangan Internasional Spesies Flora dan Fauna Langka (CITES) mengatakan, hewan liar adalah “komponen utama dari ekonomi Afrika. Ini adalah sumber utama protein hewani dan komoditas ekspor terutama bagi penduduk”. Karena itu ia berpikir bahwa “industri” harus “dikelola, tidak ternodai oleh kriminal.”

Mengapa perburuan primata meningkat secara drastis, terutama di Afrika? Dalam semua kemungkinan, perburuan dipicu oleh ledakan penduduk di Afrika selama kurang lebih 20 tahun terakhir, dimana meningkatnya kepadatan populasi manusia di hutan dan pedesaan, dan meninggalkan populasi yang lapar di kota-kota yang sedang berkembang. Pada tahun 1998, sebuah koalisi dari 34 organisasi konservasi dan spesies kera yang disebuh “Aliansi Kera” memperkirakan bahwa di Kongo, lebih dari 600 gorila daratan rendah dibunuh setiap tahun untuk dimakan dagingnya.

Dibalik warung antelop “tumpukan tulang lengan panjang yang menonjol, jelas punya simpanse dan gorila. Di kedai jimat, kamu dapat membeli tangan simpanse, tengkorak gorila, potongan bulat belalai gajah atau ekor merah dari burung parot abu-abut. (Jika anda merebus jari gorila, orang-orang percaya, dan penambahan air untuk mandi bayi, bayi akan kuat seperti gorila). Ribuan simpanse dibuhun setiap tahunnya. Tingkat reproduksi simpanse yaitu 1 bayi setiap 4 tahun, gorila biasanya lebih lambat dari itu. Kera tidak memiliki kapasitas reproduksi untuk bangkit kembali dari serangan tersebut.

Pada April 1999, bulan yang sama bahwa laporan WCS keluar, 28 organisasi dan lembaga, yang dipimpin oleh Jane Goodall Institute, tampil dengan pernyataan besar tentang perlindungan kera. Dalam pernyataan konsensus disebutkan langkah yang harus segera diambil jika ingin kera tetap bertahan hidup, menyerukan pendidik, pemerintah, dan perusahaan pada umumnya, dan semua itu, perburuan, pertambangan, dan industri ekstraktif lain untuk mengambil tindakan sesegera mungkin untuk melindungi kera.

Siapakah kera besar itu? Pertama-tama, seperti yang kita semua tahu, mereka adalah saudara kita, semua yang kita perlu tahu tentang fisik mereka adalah bahwa mereka secara genetik sangat mirip dengan kita; simpanse memiliki 98,5% dari DNA kita. Pengakuan tidak berhenti pada DNA. Simpanse menggunakan alat. Mereka mengeluarkan rayap dari gundukan mereka dengan menggunakan sedotan dan tongkat, dan mereka memecahkan kacang dengan palu. Perilakunya tidak naluriah. Hal ini belajar, diajarkan untuk setiap generasi baru oleh yang terakhir. Selanjutnya, itu adalah budaya; di daerah yang berbeda, kelompok yang berbeda dari simpanse telah belajar dengan cara yang berbeda. Tetapi mereka bisa belajar bahasa: simpanse telah diajarkan bahasa tanda amerika, lexigram, dan tanda bahasa. Mereka dapat berkomunikasi dengan kita ketika kita bersedia untuk menggunakan bahasa-bahasa ini, tidak pada tingkat intelektual yang tinggi, tetapi setidaknya pada tingkat dasar.

Apakah fakta itu terutama yang menjadi dasar keyakinan kita bahwa kita harus melindungi kera dari pembantaian? Dimana, etika berbicara, adalah kera? Ada yang berbeda, dan kadang-kadang tidak kompatibel, alasan etika mendasari tekat kami bahwa mereka harus dilindungi.

Kera Di Alam Liar: Kunci Jenis Spesies Dan Pelestarian Ekosistem Yang Terancam Punah

Keberatan dengan penggunaan kera untuk daging, salah satu poin pertama yang harus selalu dicatat adalah bahwa kera, sebagai spesies, yang “dilindungi”. Apa alasan untuk “melindungi” spesies? Kera besar di alam liar memaikan peran penting dalam hutan, sebagai spesies kunci dari ekosistem, hewan didekat bagian atas rantai makanan tanpa kehadiran keseimbangan dari semua spesies lain yang tidak dapat dijaga. Hutan Afrika tidak dapat diselamatkan kecuali kita dapat menjaganya dengan semua kembangbiak simpanse dan gorila. Peran kunci harus dibedakan dari peran kedua kera sebagai simbol ekosistem atau spesies pemimpin, spesies besar dan menarik untuk ditampilkan dalam kampanye penyelamatan hutan.

Kera Di Laboratorium: Manfaat Faedah Dan Klaim Yang Menggangu Hak

Simpanse memiliki 98,5% sumbangan genetik kita. Lalu mengapa simpanse tidak mengalami asma, rematik arthitis, jerawat atau AIDS, bahkan ketika virusnya jelas ada dalam aliran darah? ? Apa yang dapat kita pelajari tentang penyakit manusia, sekarang dan dimasa depan, dari eksperimen dengan hewan tersebut? Dan setelah menggunakan tubuh simpanse untuk penelitian medis, apa lagi yang mungkin dapat kita pelajari dari genom yang sangat mirip? Karena kera besar dapat mempelajari bahasa, dan tampaknya mengalami seluruh emosi yang kita tahu.

Apakah hewan percobaan layak dari kami? Semua hewan layak perlakuan yang manusiawi (sebagai lawan dari manusia): mereka mungkin tidak dipukuli, disiksa (Sebagai bagian dari penelitian atau untuk hiburan staf), dilecehkan, diabaikan, dikurung tanpa udara segar atau berolahraga, kelaparan, atau dibiarkan mati terinfeksi di kandang yang tidak bersih. Tapi perlakuan manusia bukan satu-satunya masalah terhadap kera. Dia membenci pengaturan laboratorium kebanyakan yang menerapkan sistem “seperti penjara”, dia terang-terangan mengutuk para ilmuwan yang melakukan penelitian untuk tujuan profesional mereka sendiri.

Mengapa? Satu cerita bernilai seratus argumen. Mempertimbangkan satu ini:

Dua puluh tahun yang lalu saya bertemu simpanse bernama Bruno. Dia adalah salah satu dari anggota grup simpanse yang diajarkan Bahasa Tanda Amerika untuk menentukan apakah kera dapat berkomunikasi dengan manusia. Tahun lalu saya pergi untuk melihatnya lagi. Percobaannya sudah lama berlalu, dan Bruno dipindahkan ke laboratorium medis pada 1982, tetapi dia masih menggunakan tanda-tanda itu.

Dia telah belajar bagaimana berkomunikasi di masyarakat dimana dia dapat menemukan dirinya sendiri. Kemudian, setelah percobaan selesai, kemampuannya untuk berbicara tidak berguna lagi untuk anggota komunitas itu, sehingga mereka mengirim dia pergi ke suatu tempat dimana dia dapat digunakan di laboratorium tikus untuk mengetes vaksi atau obat baru. Tapi ia masih ingin berbicara, untuk berkomunikasi. Dia tidak puas dengan kehidupan yang aman dan makanan yang cukup. Dia seperti manusia, dan dia ingin berbicara dengan manusia sebagaimana mereka berbicara kepada Bruno. Apakah hak yang kita punya untuk memaksakan isolasi seperti itu?

Kera Di Pengadilan: Haruskan Mereka Memiliki Hak Seperti Manusia?

Bruno tampak seperti manusia. Haruskah kita memberikanya, dan spesiesnya, hak-hak manusia? David Pearson, Proyek Kera Besar (sebuah kampanye sistematik internasional untuk hak dari kera pesar, didirikan pada 1993) mengambil saran dari Blathford pada Januari 1998, menyerukan perhatian kepada “paradigma telah bergeser selama 20 tahunn terakhir atau lebih dalam pemahaman kita tentang kehidupan emosional dan mental yang kompleks dari kera besar – kompleksitas yang menuntut kita memberikan hak dasar kehidupan, kebebasan individu dan kebebasan dari penyiksaan pada semua kera besar”. Pada tahun 1999, Proyek Kera Besar bergabung dengan Kampanye New Zealand untuk memberikan “hak aasi manusia penuh” kepada kera; kampanye gagal, tapi tidak gagal sekali.

Ahli primata, Frans de Wall dari Yerkes Regional Primate Research Center di Atlanta berpendapat bahwa menurut hak kera menempatkan kita pada “lereng yang licin” menuju ketidak masuk akalan. “Jika kamu berpendapat untuk hak dasar kontinuitas antara kita dan kera besar, lalu kamu akan berdebat kembali kontinuitas antara kera dan monyet,” dan seterusnya sampai ke tikus. Filsuf Peter Singer, penulis buku Pembebasan Hewan, tidak khawatir tentang perolehan hak hukum tikus dan bertanya jika lereng licin tidak dapat dimiringkan dengan cara lain: “Jika kamu menolak simpanse memiliki hak-hak tertentu , maka secara logis, anda harus menyangkal intelektualitas anak-anak disable juga”. Haruskah kita?

Ekowisata Dan Rasa Saling Menghargai

ekowisata-ilustrasi-_150730154106-130

Misalnya kita akan memutuskan bahwa kera, memang, cukup seperti diri sendiri yang layak mendapatkan hak asasi manusia. Apa berikutnya? Haruskan kita memperlakukan mereka dengan cara kita memperlakukan manusia dengan kapasitas mental yang terbatas – mengunci mereka di rumah atau institusi, dengan staff untuk memastikan mereka berpakaian di pagi hari, menggunakan kamarmandi dengan benar, dan memakan makanan sehat hingga mereka mati? Amit-amit.

Hak utama itu sendiri tepat mensyaratkan bahwa kera akan dibiarkan di alam liar dan ditinggalkan sendiri, habitat mereka dilindungi dari pelanggaran dan komunitas mereka dihormati sebagaimana kita menghormati komunitas manusia lainnya. Singkatnya, implikasi dari hak asasi penuh untuk kera sama dengan kesimpulan dari konsevasi. Kita harus bekerja untuk melestarikan hutan dimana kera tinggal, kita harus menghakhiri semua perburuan “daging hewan” secepatnya, dan kita harus menyusun pertemuan dengan seluruh kera untuk mencerminkan rasa hormat manusia dengan hak asasi, hidup berdasarkan adat dan hukum mereka sendiri.

Masalah utama dengan solusi ini adalah, seperti diatas, ekonomi. Dapatkah kita membantu kera untuk mensuport mereka secara ekonomi? Cara terbaik adalah untuk mendirikan sebuah industri untuk mempertahankan kera melalui “ekowisata”, menghibur wisatawan yang ingin mengunjungi kera di alam liar. Wisatawan telah bepergian ke Afrika dan Asia untuk melihat hewan di beberapa abad ini, setelah semua. Dalam ekowisata, mereka tidak datang untuk menembak, tetapi menikmati dan belajar.. ketika ekowisata didirikan dan berjalan dengan baik, uang wisatawan akan membantu ekonomi lokal. Untuk alasan ini kepentingan semua orang untuk memastikan bahwa hewan tidak dirugikan atau ketakutan, sehingga wisatawan akan menikmati dan akan datang kembali dengan membawa lebih banyak uang. Ekowisata akan memungkinkan kera untuk tinggal di habitat liar mereka dan melestarikan ekosistem.

Leave a Reply

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE