Thinking Like a Research

Berpikir Ilmiah

think-like-a-detective-produce-like-an-investigative-reporter-8-728

 Bahasa Yang Digunakan Dalam Penelitian

Bilamana kita melakukan penelitian, kita berusaha mencari tahu mengenai petanyaan “apa”, untuk mengerti, menjelaskan, dan memprediksi fenomena.Kita mungkin ingin menjawab pertanyaan, “Bagaimana reaksi karyawan terhadap jadwal kerja baru yang lebih luwes?” atau “Mengapa harga saham di bursa meningkat lebih tinggi ketika semua indikator-indikator yang lazim menunjukkan bahwa harga saham akan turun?”Bila menghadapi pertanyaan-pertanyaan demikian, kita harus menyepakati rumusan-rumusan.Karyawan yang mana?Reaksi yang bagaimana?Apa yang merupakan indikator-indikator yang utama? Pertanyaan-pertanyaan ini memerlukan pemakaian konsep, konstruk, dan definisi.

Konsep

Jika kita harus mengerti dan menyampaikan informasi mengenai objek-objek dan peristiwa-peristiwa, maka diperlukan dasar yang umum untuk itu.Untuk tujuan ini dipakai konsep-konsep.Suatu konsep merupakan sejumlah pengertian atau ciri yang berkaitan dengan berbagai peristiwa, objek, kondisi, situasi dan hal lain yang sejenis. Konsep-konsep diciptakan dengan menggolongkan dan mengelompokan objek-objek atau peristiwa-peristiwa yang mempunyai ciri-ciri yang sama. Bilamana anda memikirkan sebuah spread-sheet dan kartu jaminan yang diabstraksikan menjadi suatu himpunan ciri-ciri yang khusus dan dapat dirumuskan.

Kita mengabstraksikan pengertian-pengertian demikian dari kenyataan dan memakai kata-kata sebagai label untuk menandai pengertian-pengertian ini. Misalnya, kita mengamati seseorang yang lewat dan berpikir, ia sedang berlari, berjalan, melompat, atau merangkak. Semua gerakan ini mencerminkan konsep-konsep.Kita juga telah mengabstraksikan beberapa unsur visual yang mana kita menyatakan bahwa objeknya adalah seorang pria bukan wanita atau mobil truk atau kuda.Rupanya kita memakai banyak konsep setiap hari dalam berpikir, berbicara, atau melakukan kegiatan-kegiatan lainnya.

Sumber-sumber Konsep

Konsep-konsep umum merupakan bagian terbesar dari komunikasi bahkan dalam penelitian.Tetapi kita sering mengalami kesulitan jika menghadapi suatu konsep yang tak lazim atau suatu pemikiran yang baru. Suatu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan meminjam dari bahasa lain (misalnya, gestalt) atau meminjam dari bidang-bidang lain. Konsep gravitasi dipinjam dari ilmu fisika dan dipakai dalam pemasaran , dalam usaha untuk menjelaskan mengapa orang berbelanja di suatu tempat tertentu. Konsep jarak dipakai dalam mengukur sikap untuk menggambarkan tingkat-tingkat perbedaan antara sikap dari dua orang atau lebih.Ambang batas dipakai untuk menggambarkan suatu konsep dalam kajian-kajian mengenai persepsi, sementara kecepatan merupakan istilah yang dipakai oleh ahli ekonomi yang dipinjam dari ahli fisika.

Meminjam tidak selalu praktis, maka kita perlu (1) mengadopsi pengertian-pengertian baru untuk katakata (membuat suatu kata mencakup suatu konsep yang berbeda) atau (2) mengembangkan label-label (kata-kata) baru untuk konsep-konsep.Perluasan pengertian mengenai model merupakan contoh bagi butir (1), sementara mengembangkan konsep-konsep seperti sibling dan tegangan status merupakan contoh bagi butir (2).Bilamana kita mengadopsi pengertian-pengertian baru atau mengembangkan label-label baru, kita mengembangkan suatu terminology yang khusus.Para peneliti di bidang pengobatan, ilmu-ilmu fisika, dan bidang-bidang berkaitan sering memakai istilah-istilah yang tidak dimengerti oleh pihak luar.Terminology khusus jelas meningkatkan efisiensi berkomunikasi di antara para ahli, tetapi mengecualikan semua pihak lainnya.

Pentingnya Konsep dalam Penelitian

Dalam penelitian, persoalan-persoalan khusus berkembang karena kebutuhan akan ketepatan konsep dan menemukan hal-hal baru. Kita mendesain hipotesis dengan memakai konsep.Kita merancang konsep-konsep pengukuran dengan mana kita menguji pernyataan-pernyataan hipotesis tersebut.Kita mengumpulkan data dengan memakai konsep-konsep pengukuran ini.Kita bahkan mungkin menciptakan konsep-konsep baru untuk menyatakan pemikiran-pemikiran kita. Keberhasilan penelitian tergantung kepada (1) sejauh mana kita merumuskan konsep secara jelas, dan (2) sejauh mana orang lain mengerti konsep-konsep yang kita ajukan. Misalnya, kalau kita melakukan survey mengenai masalah keadilan pajak, maka pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus secara cermat merekam sikap-sikap para responden.Sikap merupakan sesuatu yang abstrak, namun demikian kita harus berusaha mengukur dengan memakai konsep-konsep yang didesain dengan hati-hati.

Tantangannya adalah untuk mengembangkan kosep-konsep yang jelas dimengerti oleh orang lain. Misalnya, kita mungkin akan menanyakan responden mengenai perkiraan penghasilan keluarga mereka. Hal ini nampak sebagai suatu konsep yang sederhana dan jelas, tetapi kita akan mendapat berbagai jawaban yang membingungkan kecuali jika kita membatasi konsepnya dengan merinci (1) jarak waktu, seperti mingguan, bulanan, atau tahunan; (2) sebelum atau sesudah dipotong pajak; (3) bagi kepala keluarga saja atau bagi semua anggota keluarga; dan (4) untuk gaji dan upah saja, atau mencangkup dividen, bunga, dan keuntungan atas modal.

Konstruk

Sebagaimana dipakai dalam penelitian ilmu-ilmu social, sebuah konstruk (constructs)merupakan suatu bayangan atau pemikiran yang secara khusus diciptakan bagi suatu penelitian dan/atau untuk tujuan membangun terori. Kita membangun konstruk dengan mengkombinasikan konsep-konsep yang sederhana, khususnya bilamana pemikiran atau bayangan yang ingin kita komunikasikan tidak secara langsung dapat diamati.

Konsep dan konstruk mudah dikacaukan.Berikut adalah contoh untuk menjelaskan perbedaan ini.Seorang analis sumber daya manusia di sebuah perusahaan perangkat lunak yang mempekerjakan penulis-penulis teknik sedang menganalisis ciri-ciri dari tugas suatu pekerjaan yang perlu didesain kembali. Ia mengetahui bahwa uraian tugas bagi penulis teknik terdiri dari tiga komponen : kualitas penyajian, keterampilan bahasa, dan minat terhadap tugas pekerjaan. Analisis pekerjaan mengungkapkan lebih banyak ciri-ciri khas.

            Gambar dibawah menggambarkan beberapa konsep dan konstruk yang dihadapinya.Konsep-konsep di bagian bawah gambar ini (ketepatan format, kesalahan dalam naskah, dan kecepatan mengetik) merupakan yang paling mudah dan yang paling konkrit untuk dapat diukur. Misalnya, kita dapat mengamati kecepatan mengetik, dan bahkan dengan ukuran-ukuran yang kasar kita dapat sepakat mengenai apa yang dinamakan pengetik yang cepat dan yang lamban. Kecepatan mengetik merupakan satu konsep dalam kelompok yang merumuskan suatu konstruk yang disebut “kualitas penyajian”.Kualitas penyajian merupakan suatu wujud yang tidak nyata, suatu konstruk.Ini dipakai untuk menyampaikan kombinasi pengertian dari tiga konsep. Analis kita memakainya sebagai suatu label bagi konsep-konsep yang telah diamati ternyata berhubungan secara empiris.

Konsep-konsep dalam tingkat berikutnya dalam gambar adalah konsep kata, sintaksis, dan ejaan.Ketiga konsep ini membentuk suatu konstruk yang dinamakan “keterampilan berbahasa”. Istilah ini diberikan karena ketiga konsep secara bersama merumuskan kebutuhan akan bahasa dalam uraian tugas. Keterampilan berbahasa ditempatkan pada tingkat abstraksi yang lebih tinggi dalam gambar diatas karena pada konsep-konsep yang mendasarinya lebih sulit diamati dan pengukuran-pengukurannya lebih rumit.

Analisis kita belum mengukur konstruk yang terakhir, “minat terhadap pekerjaan”.Konstruk ini paling sulit diamati dan paling rumit untuk diukur.Ia cenderung terdiri dari banyak konsep- banyak diantaranya sangat abstrak. Para peneliti kadang-kadang merujuk ke satuan- ke satuan ini sebagai konstruk hipotesis karena hanya dapat disimpulkan melalui data; maka dianggap ada tetapi perlu diuji lebih lanjut. Jika pada akhirnya penelitian membuktikan bahwa konsep-konsep dan konstruk-konstruk dalam contoh ini saling berkaitan, dan jika proposes-proposisi yang merinci hubungan-hubungan ini dapat didukung, maka peneliti telah mempunyai awal dari suatu skema konseptual untuk menggambarkan hubungan antara pengetahuan dan persyaratan ketrampilan yang akan menjelaskan upaya desain ulang tugas pekerjaan.

Definisi

Kebingungan mengenai pengertian konsep-konsep dapat merusak nilai suatu penelitian tanpa sepengathuan peneliti atau klien. Jika kata-kata mempunyai pengertian yang berbeda-beda bagi pihak-pihak yang terkait, maka mereka tidak berkomunikasi pada gelombang pemikiran yang sama. Salah satu cara untuk menghindari hal ini adalah dengan memakai definisi-definisi.

Meskipun ada berbagai jenis definisi, yang paling umum adalah definisi menurut kamus dan definisi operasional.Disini konsep dijelaskan dengan suatu sinonim. Misalnya, “customer” dirumuskan sebagai “patron”, “patron” dirumuskan sebagai klien atau pelanggan suatu usaha; seorang klien dirumuskan sebagai seorang yang memakai jasa-jasa profesional…., juga, secara bebas, pelanggan took. Definisi-defini seperti ini mungkin cukup memuaskan dalam komunikasi umum, tetapi tidak demikian untuk penelitian.Disini kita harus mengukur konsep, dan dalam hal ini diperlukan definisi yang lebih ketat.

Definisi-definisi Operasional

Suatu definisi operasional adalah suatu definisi yang dinyatakan dalam kriteria atau operasi yang dapat diuji secara khusus. Istilah-istilah ini harus mempunyai rujukan-rujukan empiris (artinya, kita harus bisa menghitung, mengukur, atau dengan cara yang lain dapat mengumpulkan informasi melalui penalaran kita). Apakah objek yang akan didefinisikan adalah objek fisik (misalnya, motivasi untuk mencapai sesuatu), definisinya harus merinci ciri-ciri yang akan dipelajari dan bagaimana mengamatinya. Rincian-rincian dan prosedur-prosedur nya harus demikian jelas sehingga setiap orang yang berkompeten yang akan memakainya akan mengklasifikasikan objeknya dengan cara yang sama.

Definisi-definisi operasional mungkin berbeda-beda, tergantung maksud tujuannya dan cara anda akan mengukurnya.berikut ini ada dua situasi berbeda yang membutuhkan definisi yang berbeda-beda mengenai konsep yang sama:

  1. Anda melakukan survey kepada mahasiswa dan ingin mengelompokan jawaban-jawaban mereka menurut semester. Anda hanya meminta mereka melaporkan status semesternya dan anda akan mencatatnya. Dalam hal ini, kelompok-kelompoknya adalah semester kesatu, semester kedua, dan anda menerima jawaban-jawaban dari masing-masing responden sebagai benar. Proses ini merupakan proses pendefinisian yang tidak begitu ketat namun tetap merupakan proses pendefinisian operasional. Mungkin saja proses ini sudah cukup dalam hal ini, meskipun ada responden yang memberikan jawaban yang kurang benar.
  2. Anda membuat tabulasi dari kelompok mahasiswa menurutsemester untuk laporan tahunan Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK). Tugasnya disini lebih rumit, maka definisi operasionalnya harus lebih cermat. Anda memutuskan untuk merumuskan semester menurut jumlah satuan kredit semester (sks) yang telah diselesaikan dan tercatat dalam arsip mahasiswa masing-masing di kantor BAAK. Jadi:

Mahasiswa tahun ke 1             Kurang dari 30 sks

Mahasiswa tahun ke 2             30-59 sks

Mahasiswa tahun ke 3             60-89 sks

Mahasiswa tahun ke 4             lebih dari 90 sks

            Contoh-contoh ini adalah mengenai konsep-konsep yang relative konkrit, tetapi definisi-definisi operasional lebih pelik lagi bagi pemikiran-pemikiran yang abstrak. Andaikan seorang akan mengukur konstruk mengenai “komitmen organisasi”. Secara intiusi kita mungkin mengerti apa maksud ini, tetapi untuk mengukurnya pada para pekerja adalah sulit. Kita mungkin harus mengembangkan suatu skala komitmen atau kita mungkin memakai suatu skala yang sudah dikembangkan dan dibuat sahih oleh orang lain. Maka, skala ini merumuskan secara operasional konstruk tersebut.

            Apapun bentuk definisinya, tujuannya dalam penelitian pada dasarnya sama- memberikan pengertian dan pengukuran konsep-konsep.Kita barangkali perlu memberikan definisi-definisi operasionalnya hanya bagi beberapa konsep yang pelik saja, tetapi hampir selalu definisi-definisi ini yang dipakai untuk mengembangan hubungan-hubungan dalam hipotesis-hipotesis dan teori-teori.

Variabel

Dalam praktek, istilah variabel dipakai oleh para ilmuan dan peneliti sebagai sinonim untuk konstruk atau hal yang sedang diteliti.Dalam konteks ini, suatu variabel “merupakan symbol yang diberi angka atau nilai.

            Nilai atau angka yang diberikan kepada suatu variabel didasarkan pada ciri-ciri variabel tersebut.Misalnya, beberapa variabel, yang dikatakan sebagai dikotomis, hanya mempunyai dua nilai yang mencerminkan ada atau tidaknya suatu ciri tertentu; bekerja-menganggur atau pria-wanita hanya mempunyai dua nilai, biasanya 0 dan 1.Variabel-variabel juga dapat mempunyai nilai yang mencerminkan kategori-kategori tambahan seperti variabel-variabel demografis mengenai suku bangsa atau agama.Semua variabel yang menghasilkan data dimasukan dalam kategori-kategori tertentu saja. Pada variabel automotif, dimana Chevrolet diberi nilai 5 dan Honda diberi nilai 6, tidak mempunyai kemungkinan nilai 5,5.

            Penghasilan, suhu udara, usia, atau skor tes merupakan contoh-contoh variabel kontinu.Variabel-variabel ini dapat mempunyai nilai-nilai dalam suatu interval tertentu, atau kadang-kadang, dalam suatu himpunan tidak terbatas. Skor tes dapat bervariasi dari 0 sampai 100, usia anda mungkin 23,5 tahun, dan penhasilan anda sekarang mungkin $35.000.

Variabel Independen dan Dependen

            Para peneliti berkepentingan dengan hubungan-hubungan anatarvariabel. Misalnya, apakah gaya kepemimpinan partisipatif (variabel independen) berpengaruh kepada kepuasan bekerja atau kinerja (variabel dependen), atau apakah pemodelan perilaku etis dari atasan berpengaruh kepada perilaku bawahan?

“Tidak ada yang menyesatkan mengenai pengertian independen dan dependen.Tetapi ada yang menyesatkan mengenai fakta bahwa hubungan independen dan dependen meerupakan bayangan dari imajinasi peneliti sampai dibuktikan kebenarannya.Para peneliti membuat hipotesis mengenai hubungan independen dan dependen; mereka menciptakannya, dan kemudian mereka mencoba dengan mengujinya untuk melihat apakah hubungan-hubungannya memang demikian”.

Variabel Independen Variabel Dependen
Prediksi Kriteria
Penyebab yang diduga Dampak yang diduga
Stimulus Respon
Diprediksi dari… Diprediksi menjadi…
Yang terjadi sebelumnya Konsekuensi
Dimanipulasi Hasil yang diukur

            Dalam hubungan, setidak-tidaknya ada satu variabel independen (VI) dan satu variabel dependen (VD). Hipotesisnya biasanya menyatakan bahwa dengan satu atau lain cara VI “menyebabkan” terjadinya VD. Dalam hubungan yang sederhana, semua variabek lain dianggap tidak relevan (extraneous) dan diabaikan. Jadi, kita mungkin ingin meneliti pengaruh empat hari kerja seminggu terhadap produktivitas kerja di kantor dan membuat hipotesis berikut:

              Empat hari kerja dalam seminggu (VI) akan cenderung meningkatkan produktivitas kerja kantor per jam oran (VD).

Variabel Moderator

            Akan tetapi dalam situasi penelitian sebenarnya, hubungan sederhana satu lawan satu perlu dikondisikan dan direvisi agar variabel-variabel lain turut dipertimbangkan. Sering kita memakai jenis variabel penjelas penting yang lain disini- variabel moderator (VM). Variabel moderator merupakan variabel independen kedua yang dicakuo dalam hipotesis ini, karena diduga mempuyai dampak yang berarti terhadap hubungan VI-VD yang semula dinyatakan. Misalnya, hipotesisnya adalah bahwa :

Pelaksanaan empat hari kerja dalam seminggu (VI) cenderung meningkatkan produktivitas kerja (VD) khususnya diantara para pekerja usia muda (VM).

Variabel Luar biasa (Extraneous Variables)

            Ada variabel-variabel luar biasa yang jumlahnya hampir tidak terbatas yang mungkin saja berpengaruh pada suatu hubungan tertentu.Beberapa diantaranta dapat diperlakukan sebagai variabel-variabel independen atau moderator, tetapi kebanyakan harus diasumsikan saja atau dikecualikan saja dari penelitian.Untunglah bahwa variabel-variabel yang jumlahnya banyak ini mempunyai sedikit saja atau bahkan tidak mempunyai dampak terhadap suatu keadaan tertentu.Kebanyakan variabel ini dapat diabaikan.Mungkin ada diantaranya yang penting tetapi dampaknya demikian acak sehingga dampaknya kecil sekali.

            Dalam contoh dampak empat hari kerja dalam seminggu, kita biasanya membayangkan pemberlakuan suatu pajak penjualan, pemilihan walikota baru, hujan selama tiga hari dan ribuan peristiwa dan situasi serupa, mempunyai dampak kecil sekali terhadap panjang minggu kerja dan produktivitas kerja di kantor.

            Akan tetapi mungkin ada variabel-variabel luar biasa lain yang barangkali harus dipertimbangkan sebagai variabel yang berpengaruh kepada hubungan VI-VD antara panjang minggu kerja dan produktivitas kerja di kantor. Misalnya, mungkin jenis pekerjaan yang dilakukan mempunyai pengaruh terhadap dampak panjangnya minggu kerja terhadap produktivitas kerja di kantor. Hal ini membuat kita mencantumkan pengendali sebagai berikut:

            Dalam kerja rutin (pengendali), pemberlakuan empat hari kerja dalam seminggu (VI) cenderung meningkatkan produktivitas yang lebih tinggi (VD), khususnya antara para pekerja usia muda.

Dalam contoh diatas, kita beusaha memasang kendala pada jenis pekerjaan dengan mempelajari dampak dari empat hari kerja dalam seminggu dalam kelompok-kelompok yang melakukan pekerjaan yang berbeda-beda.

Variabel Antara (Intervening Variables)

Variabel-variabel yang dikemukakan sehubungan dengan hubungan-hubungan kausal merupakan variabel-variabel yang konkrit, jelas dapat diukur, dan dapat dilihat, dihitung atau diamati. Akan tetapi, kadang-kadang ita tidak sepenuhnya puas dengan penjelasan-penjelasan yang diberikannya. Jadi, meskipun kita mengakui bahwa empat hari kerja dalam seminggu menyebabkan produktivitas yang lebih tinggi, kita mungkin mengganggap bahwa ini belum merupakan penjelasan yang lengkap- bahwa panjang minggu kerja berpengaruh pada suatu variabel antara, yang pada dirinya menyebabkan produktivitas yang lebih tinggi. Suatu variabel antara merupakan mekanisme konseptual melalui mana VI dan VM mungkin berpengaruh pada VD.Variabel antara dapat dirumuskan sebagai “factor yang secara teori berpengaruh pada fenomena yang diamati tetapi tidak dapat dilihat, diukur, atau dimanipulasi, dampak-dampaknya harus disimpulkan berdasarkan dampak variabel-variabel independen dan moderator terhadap fenomena yang diamati”.

            Dalam kasus hipotesis panjang minggu kerja, mungkin kita menganggap kepuasan kerja sebagai variabel antara, dan menghasilkan hipotesis sebagai berikut :

            Pemberlakuan empat hari kerja dalam seminggu cenderung meningkatkan produktivitas kerja melalui peningkatan kepuasan kerja.

Proposisi dan Hipotesis

            Kita definisikan suatu proposisi sebagai suatu pernyataan mengenai konsep-konsep yang dapat dinilai benar atau salah jika merujuk pada fenomena yang dapat diamati.Bilamana suatu proposisi dirumuskan untuk diuji secara empiris, maka disebut hipotesis.Sebagai suatu pernyataan, hipotesis bersifat sementara atau dugaan.

Hipotesis kadang-kadang juga digambarkan sebagai pernyataan-pernyataan dimana kita menetapkan variabel-variabel kepada kasus-kasus.Suatu kasus dalam pengertian ini dirumuskan sebagai suatu kesatuan atau hal yang dinyatakan oleh hipotesis.Variabel merupakan ciri, atau atribut yang dalam hipotesis, dicantumkan dalam kasus. Misalnya, kita rumuskan hipotesis:

Manajer Jonas (kasus) mempunayi motivasi berprestasi yang lebih tinggi dari rata-rata.

            Jika hipotesis kita didasrkan pada lebih dari satu kasus, maka dinamakan generalisasi. Misalnya, ”para manajer dalam perusahaan Z (kasus) mempunyai motivasi berprestasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata.

Hipotesis Deskriptif

Hipotesis deskriptif merupakan preposisi yang menyatakan keberadaan, besar, bentuk, atau distribusi terhadap variabel.Para peneliti sering mengajukan suatu pertanyaan penelitian ketimbang suatu hipotesis deskriptif.

Hipotesis Mengenai Hubungan

Hipotesis ini merupakan pernyataan-pernyataan yang menggambarkan suatu hubungan antara dua variabel, berkaitan dengan suatu kasus tertentu. Hubungan-hubungan korelasional hanya menyatakan bahwa variabel-variabel terjadi bersamaan dalam suatu cara tertentu, tanpa menyatakan bahwa variabel yang satu menyebabkan terjadinya variabel yang lain. Pernyataan-pernyataan yang dangkal seperti ini sering dilontarkan apabila kita yakin bahwa ada kekuatan sebab-akibat yang lebih kuat yang berpengaruh pada kedua variabel atau apabila kita belum mempunyai cukup bukti untuk mengemukakan suatu kaitan yang lebih kuat. Contoh hipotesis-hipotesis korelasi adalah :

  1. Teknisi muda (di bawah usia 35 tahun) kurang produktif dibandingkan dengan mereka yang berusia 35 tahun atau lebih.
  2. Panjang rok kaum wanita berbanding langsung dengan siklus bisnis
  3. Penduduk negara bagian Atlanta (Amerika) lebih banyak mendukung presiden Amerika dibandingkan dengan penduduk di St. Louis (Amerika).

Dengan menamakannya sebagai hipotesis korelasi, kita tidak mengatakan bahwa suatu variabel menyebabkan variabel lain berubah.

Pada hipotesis-hipotesis sebab-akibat ada implikasi bahwa adanya, atau berubahnya, satu variabel menyebabkan atau cenderung berpengaruh pada variabel yang lain. Sebagaimana dicatat sebelumnya, variabel penyebab disebut variabel independen (VI) dan variabel yang lain disebut variabel dependen (VD). Secara kasar, “penyebab” berarti “membantu terjadinya suatu peristiwa”. Maksudnya,VI belum tentu merupakan satu-satunya alasan terjadinya,atau berubahnya,VD. Contoh-conoh mengenai hipotesis sebab-akibat adalah :

  1. Suatu kenaikan dalam pendapatan keluarga cenderung menaikkan persentase pendapatan yang ditabung.
  2. Keterbukaan perusahaan terhadap masalah-masalah industry yang dihadapi cenderung berpengaruh baik kepada sikap para pekerja terhadap perusahaan.
  3. Kesetiaan kepada suatu grosir tertentu meningkatkan peluang untuk membeli barang yang menggunakan merek dagang oleh took tersebut.

Ketika mengajukan atau mengartikan hipotesis sebab-akibat, peneliti harus mempertimbangkan arah dari pengaruh/penyebab.Dalam banyak hal, arah ini jelas dari sifat variabel-variabelnya.Jadi, dalam contoh 1, kita asumsikan bahwa pendapatan keluarga mempengaruhi tingkat tabungan dan bukan sebaliknya.Dalam contoh 2, kemampuan kita mengidentifikasi arah pengaruhnya bergantung pada desain penelitian.Jika pesan keterbukaan yang dikemukakan jelas mendahului pengukuran sikap karyawan, maka arah keterbukaan ke sikap nampaknya jelas; jika informasimengenai keterbukaan maupun sikap dikumpulkan pada waktu bersamaan, maka mungkin beralasan untuk mengatakan bahwa sikap yang berbeda cenderung berpengaruh pada keterbukaan perusahaan atau ketidakterbukaannya. Kesetiaan kepada suatu took mungkin menaikkan peluang pembelian merk tertentu di kota tersebut, tetapi adanya merk-merk tertentu juga dapat meningkatkan kesetiaan kepada toko tersebut.

Peranan Hipotesis

Dalam penelitian, suatu hipotesis mempunyai berbagai fungsi penting:

  • Hipotesis digunakan sebagai pedoman untuk mengarahkan penelitian.
  • Hipotesis dapat mengidentifikasikan kejadian mana yang relevan dan mana yang tidak relevan.
  • Hipotesis mengarahkan bentuk design penelitian mana yang paling sesuai.
  • Hipotesis memberikan kerangka untuk menyusun kesimpulan yang akan dihasilkan.

Untuk mempertimbangkan secara khusus peran hipotesis dalam menentukan arah penelitian, andaikan sebagai berikut:

Para suami dan istri setuju dalam persepsi mengenai peran masing-masing dalam keputusan-keputusan mengenai pembelian.

            Hipotesis ini merinci siapa yang akan diteliti, dalam konteks apa mereka akan diteliti (pengambilan keputusan sebagai konsumen), dan apa yang akan diteliti (persepsi masing-masing mengenai peran mereka).

            Sifat hipotesis ini dan implikasi-implikasi dari pernyataan ini menunjukkan bahwa desain penelitian yang terbaik barangkali berupa suatu survey. Pada saat ini tidak ada cara praktis lain untuk mengukur persepsi orang selain dengan menanyai mereka. Disamping itu, kita hanya berkepentingan dengan peran-peran yang dilaksanakan pada saat konsumen membeli atau dalam situasi pengambilan keputusan.Oleh karena itu, studi ini jangan terlibat langsung dalam mencari informasi mengenai peran-peran lain yang mungkin dilaksanakan suami dan istri. Pemikiran mengenai hipotesis ini mungkin mengungkapkan bahwa suami dan istri tidak sama persepsinya mengenai peranan mereka tetapi perbedaan-perbedaan ini dapat dijelaskan berdasarkan variabel-variabel tambahan, seperti usia, kelompok social, latar belakang, perbedaan kepribadian, dan factor-faktor lain yang tidak berkaitan dengan perbedaan gender.

Bagaimana Hipotesis yang Baik?Hipotesis yang baik harus memenuhi tiga syarat:

  • Hipotesis ini sesuai dengan tujuannya.
  • Hipotesis harus dapat diuji.
  • Hipotesisnya harus lebih baik dari hipotesis-hipotesis saingannya.

Teori

Istilah teori sering dipakai oleh orang awam untuk menyatakan lawan dari fakta.Dalam pengertian ini, teori dianggap spekulatif atau bagaikan menara gading.Kita sering mendengar bahwa manajer terlalu teoritis, bahwa manajer perlu praktis, atau suatu pemikiran yang tidak dapat dilaksanakan karena terlalu teoritis.Gambaran mengenai fakta dan teori ini adalah salah.

            Bilamana anda terlalu teoritis, maka berarti dasar penjelasan atau keputusan anda tidak cukup diarahkan untuk kondisi-kondisi empiris.Mungkin saja demikian, tetapi hal itu tidak membuktikan bahwa teori dan fakta saling berlawanan.Sebenarnya, fakta dan teori masing-masing saling memerlukan agar berguna.Kemampuan kita untuk mengambil keputusan-keputusan yang rasional, dan mengembangkan pengetahuan ilmiah, diukur oleh tingkat sejauh mana kita mengkombinasikan fakta dan teori.Kita semua beroperasi atas dasar teori-teori yang kita anut.Di satu pihak, teori merupakan generalisasi yang dibuat mengenai variabel-variabel dan hubungan-hubungan diantaranya.Generalisasi inikita pakai untuk membuat keputusan-keputusan dan memprediksi hasil-hasilnya. Misalnya, hari menjelang siang dan anda melihat bahwa diluar mulai gelap, awan-awan gelap berarak masuk dari sebelah barat, angina bertiup segar dan suhu udara menurun. Berdasarkan pengertian anda mengenai hubungan-hubungan antara variabel-variabel ini (teori mengenai cuaca), apakah anda dapat memprediksi apa yang mungkin akan terjadi sebentar lagi?

Suatu teori merupakan himpunan konsep, definisi, dan proposisi yang berkaitan satu sama lain secara sistematis dan yang dikemukakan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena (fakta-fakta). Dalam pengertian ini, kita mempunyai banyak teori dan kita selalu menggunakannya untuk menjelaskan atau memprediksi hal-hal yang terjadi di sekitar kita.Sejauh teori-teori kita adalah baik, dan sesuai dengan keadaan, dan sesuai dengan keadaan, maka kita berhasil baik dalam memberikan penjelasan dan prediksi. Mungkin akan sulit untuk membedakan teori dan hipotesis karena keduanya menyangkut konsep, definisi, dan hubungan antara variabel-variabel. Perbedaan yang mendasar adalah pada tingkat kerumitan dan tingkat abstraksi.

Model

Istilah model dipakai di berbagai bidang bisnis dengan definisi yang beragam.Akan tetapi, kebanyakan definisi sepakat bahwa model mencerminkan fenomena melalui analogi.Suatu model dirumuskan sebagai cerminan suatu system yang dibuat untuk mempelajari salah satu aspek dari system atau dari system sebagai keseluruhan.

Fungsi utama permodelan adalah mendeskripsikan, menegaskan, dan melakukan simulasi.Masing-masing fungsi cocok untuk penelitian terapan atau pengembangan teori. Model deskriptif berusaha untuk menggambarkan perilaku unsur-unsur dalam suatu system di mana teori tidak cukup atau tidak ada. Model penegas (explicative) dipakai untuk memperluas penerapan dari teori-teori yang sudah dikembangkan atau untuk meningkatkan pengertian kita mengenai konsep-konsep pokok teori. Model simulasi lebih luas jangkauannya daripada sekedar menjelaskan hubungan structural konsep-konsep dan berusaha untuk mengungkapkan hubungan-hubungan proses diantara konsep-konsep tersebut.

Penelitian dan Metode Ilmiah

Prinsip-prinsip pokok dari metode ilmiah adalah

  • Pengamatan langsung terhadap fenomena.
  • Variabel-variabel, metode-metode dan prosedur-prosedur yang dirumuskan secara jelas.
  • Hipotesis-hipotesis yang dapat diuji secara empiris.
  • Kemampuan untuk menolak hipotesis-hipotesis tandingan.
  • Pembenaran kesimpulan secara statistic dan bukan pembenaran secara linguistic.
  • Proses koreksi.

Induksi dan deduksi, pengamatan dan uji hipotesis dapat dikombinasikan secara sistematis untuk menggambarkan metode ilmiah.Pemikiran-pemikiran yang muncul, semula diajukan oleh Dewey dan lain-lain untuk keperluan analisis penyelesaian masalah, menggambarkan satu pendekatan untuk menilai kesahihan kesimpulan-kesimpulan dari peristiwa-peristiwa yang dapat diamati dan pemikiran-pemikiran ini terutama sesuai bagi para penelitu yang mendasarkan kesimpulan mereka kepada data empiris.Peneliti :

  1. Mempunyai rasa ingin tahu, merasa ragu-ragu, menghadapi hambatan, merasa curiga, menghadapi kesulitan.
  2. Mengalami kesulitan untuk merumuskan masalah: mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mempertimbangkan apa yang ia ketahui, mengumpulkan fakta-fakta, dan bergerak dari konfrontasi emosional ke konfrontasi intelektual dalam menghadapi masalahnya.
  3. Mengajukan hipotesis-hipotesis untuk menjelaskan fakta-fakta yang dianggap berhubungan secara logis dengan masalah.
  4. Mendeduksi hasil-hasil atau konsekuensi-konsekuensi dari hipotesis-hipotesis: berusaha untuk mengetahui apa yang terjadi jika hasil-hasilnya bertentangan dengan dugaan atau jika hasil-hasilnya mendukung harapan-harapan.
  5. Merumuskan hipotesis-hipotesis tandingan.
  6. Merancang dan melakukan uji empiris yang penting dengan berbagai kemungkinan hasil, dimana masing-masing secara selektif mengecualikan satu atau lebih hipotesis.
  7. Menarik kesimpulan, inferensi induktif, berdasarkan atas diterima atau ditolaknya hipotesis
  8. Mengumpan balik informasi kepada masalah semula, sambil memodifikasinya sesuai dengan kekuatan bukti-buktinya.

Proses Berpikir: Penalaran

            Setiap hari kita melakukan penalaran dengan berbagai tingkat keberhasilan, dan mengkomunikasikan pesan kita, yang disebut arti, dalam bahasa sehari-hari, atau dalam kasus-kasus khusus, dalam bentuk logis dan simbolis. Pengertian kita disampaikan melalui dua cara: eksposisi atau argumentasi. Eksposisi terdiri dari pernyataan-pernyataan deskripstif yang sekedar dan tidak memungkinkan alasan-alasan. Di pihak lain, argumentasi memungkinkan kita untuk menjelaskan, mengartikan, membela, menantang dan menjejaki pengertian. Dua jenis argumentasi yang sangat penting dalam penelitian adalah deduksi dan induksi.

Deduksi

            Deduksi merupakan bentuk inferensi yang bertujuan menarik kesimpulan-kesimpulan ini haruslah sebagai akibat dari alasan-alasan yang diajukan.Alasan-alasan ini dikatakan mencerminkan suatu kesimpulan dan meberikan suatu bukti.Ini adalah hubungan antara alasan dan kesimpulan yang lebih kuat daripada dalam induksi.Deduksi dikatakan tepat, jika benar dan salah. Ini berarti bahwa :

  • Premis (alasan) yang diberikan untuk kesimpulan harus sesuai dengan kenyataan (benar)
  • Premis-premis diatur dalam suatu bentuk sedemikian sehingga kesimpulannya dapat ditarik dengan sederhana dari premis-premis tersebut.

Suatu deduksi adalah sahih bilamana kesimpulan tidak mungkin salah jika premis adalah benar.Para pakar logika telah menetapkan aturan-aturan dengan mana orang dapat menilai kapan suatu deduksi adalah sahih.Kesimpulan tidak dibenarkan secara logis jika (1) satu atau lebih premis tidak benar, atau (2) bentuk argumentasi tidak sahih.Misalnya :

(Premis 1)        Semua karyawan di Bank Choice dapat dipercaya bahwa mereka tidak akan mencuri.

(Premis 2)        Sara adalah seorang karyawan.

(Premis 3)        Sara dapat dipercaya, ia tidak akan mencuri.

            Jika kita yakin bahwa Sara dapat dipercaya, maka kita mungkin berpendapat bahwa deduksi ini benar.Tetapi, kesimpulan ini tidak dapat diterima sebagai deduksi yang benar kecuali bilamana bentuk argument adalah sahih dan premis-premis benar.Dalam hal ini, bentuknya sahih, dan premis 2 dapat diperiksa kebenarannya.Akan tetapi, banyak orang mungkin mempertanyakan premis umum bahwa “semua karyawan dapat dipercaya bahwa mereka tidak akan mencuri”. Sementara kita mungkin yakin bahwa Sara tidak akan mencuri, kesimpulan ini baru merupakan deduksi yang benar hanya jika kedua premis diterima sebagai benar. Jika satu premis tidak lolos uji maka kesimpulannya bukan merupakan deduksi yang benar.hal ini demikian bahkan jika kita sangat yakin akan kejujuran Sara. Dalam hal ini, kesimpulan kita harus didasarkan pada keyakinan kita akan Sara sebagai pribadi bukan didasarkan pada satu premis umum bahwa semua karyawan jujur.

            Kita mungkin tidak menyadari betapa seringnya kita memakai deduksi untuk mencari alasan-alasan dari berbagai tindakan dan situasi. Misalnya, untuk merencanakan survey, kita mungkin berpikir sebagai berikut :

                        (Premis 1)        Mewawancarai keluarga-keluarga di kota sangat sulit dan mahal.

                        (Premis 2)        Survei ini melibatkan banyak wawancara keluarga-keluarga di kota.

                        (Premis 3)        Proses wawancara dalam survey ini akan sangat sulit dan mahal.

            Sebetulnya jelas bahwa suatu kesimpulan sebagai hasil deduksi sudah “tercakup” dalam premis-premisnya.

Induksi

            Penalaran induktif sangat berlainan.Tidak ada hubungan yang kuat antara alasan dan kesimpulan disini.Melakukan induksi adalah menarik kesimpulan dari satu atau lebih fakta atau bukti-bukti.Kesimpulan menjelaskan fakta, dan faktanya mendukung kesimpulannya.Sebagai gambaran, perhatikan keadaan Teresa, seorang pramuniaga di perusahaan kardus. Hasil penjualan Teresa paling buruk diantara rekan-rekan pramuniaga lain. Hasil kerja yang buruk ini membuat kita bertanya, “Mengapa hasil kerjanya buruk?”. Dari apa yang kita tahu mengenai kegiatan penjualan Teresa, sifat penjualan kardus, dan pasar, kita mungkin menarik keimpulan (hipotesis) bahwa masalahnya adalah bahwa ia terlalu sedikit mengunjungi para pelangan. Mungkin juga hipotesis-hipotesis lain muncul berdasarkan bukti-bukti yang ada. Diantaranya adalah :

  1. Wilayah penjualan Teresa tidak mempunyai potensi pasar yang sama seperti wilayah-wilayah yang lain.
  2. Keterampilan menjual dari Teresa demikian rendah sehingga ia tidak mampu melakukan penjualan secara efektif.
  3. Para pembuat kardus local di wilaya penjualan Teresa menerapkan harga yang sangat murah sehingga ia kehilangan kesempatan melakukan penjualan.
  4. Ada orang-orang yang memang tidak mampu menjual kardus, dan Teresa termasuk diantara merek.

Semua hipotesis ini merupakan induksi-induksi yang dapat kita dasarkan pada bukti-bukti catatan penjualan oleh Teresa. Semua mugkin saja benar, tetapi mungkin beberapa diantaranya kita lebih yakini berpikirkebenarannya. Semua ini harus dikonfirmasikan lebih lanjut sebelum kita yakin betul akan kebenarannya. Konfirmasi terjadi jika tersedia lebih banyak bukti. Sebagian besar tugas penelitian adalah (1) untuk menentukan jenis bukti yang diperlukan dan (2) untuk mendesain cara-cara dengan mana kita akan mendapatkan dan mengukur bukti-bukti ini.

Gabungan Induksi dan Deduksi

            Proses induksi dan deduksi dipakai dalam penlaran penelitian secara berurutan. John Dewey menamakan ini sebagai gerak ganda dari berpikir reflektif.Induksi timbul bilaman kita mengamati suatu fakta dan bertanya, “Mengapa demikian?”Sebagai jawaban atas pertanyaan ini, kita ajukan suatu penjelasan sementara (hipotesis).Hipotesis ini mungkin jika hipotesis tersebut menjelaskan peristiwa atau kondisi (fakta) yang menyebabkan pertanyaan tadi. Deduksi merupakan proses dengan mana kita menguji apakah hipotesisnya dapat menjelaskan fakta.

Leave a Reply

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE