AUDIT LAG : CORPORATE GOVERNANCE & AUDITOR FACTOR

Pengujian Audit Report Lag pada Industri Pertambangan Indonesia Melalui Mekanisme Corporate Governance (Dewan Komisaris dan Komite Audit) dan Faktor Terkait Auditor

Tekonologi Informasi yang kini telah berkembang pesat menjadi suatu peluang bagi perusahaan untuk meningkatkan daya saing. Perkembangan teknologi informasi menjadi pendorong bagi investor untuk menggali informasi pasar yang dapat diakses dengan bebas untuk mendukung keputusan investasi. Perusahaan memiliki kesempatan yang besar untuk menunjukan kinerjanya melalui publikasi laporan keuangan pada masyarakat. Dari sisi investor maupun kreditor, informasi akuntansi maupun non akuntansi perusahaan merupakan salah satu kebutuhan penting yang harus dipenuhi dalam melakukan pertimbangan investasi. Dari situlah muncul tuntutan pada perusahaan untuk secara tepat waktu menerbitkan laporan tahunan bisnis perusahaan. Ketepatan waktu bukanlah satu satunya unsur yang harus diperhatikan oleh perusahaan namun juga kandungan informasi serta kualitas informasi yang diterbitkan perusahaan untuk masyarakat maka dari itulah dibutuhkan proses audit.

Proses audit ditujukan untuk meningkatkan value dari sebuah pernyataan manajamen sehingga apa yang dilaporkan dalam laporan keuangan perusahaan dapat dipercaya dan disajikan secara wajar. Dengan adanya tambahan proses audit terhadap laporan keuangan perusahaan tentunya akan membuat waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk menerbitkan laporan tahunan menjadi semakin lama. Di lain pihak periode penerbitan informasi yang diaudit akan mempengaruhi respon pasar terhadap laba akuntansi yang di umumkan perusahaan (paramita:2014). Untuk mendapatkan respon pasar yang positif maka beberapa penelitian dilakukan untuk menguji faktor yang dapat mempengaruhi respon pasar yaitu salah satunya adalah kualitas auditor (Sri Mulyani:2003). Dengan kualitas audit yang baik maka tidak mustahil auditor dapat melakukan proses audit dari mulai perikatan hingga pemberian opini atas laporan keuangan dalam waktu yang singkat sehingga membantu perusahaan lebih cepat dalam menerbitkan laporan keuangan. Durasi waktu atau lamanya waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku/akhir tahun fiskal hingga tanggal diterbitkannya laporan keuangan auditan disebut sebagai audit lag.

Keterlambatan waktu laporan keuangan auditan yang disampaikan oleh auditor kepada perusahaan dapat mempengaruhi kualitas informasi dari laporan tersebut karena panjangnya waktu tunda audit menunjukkan bahwa informasi yang diberikan tidak out of date dan informasi yang lama menunjukkan bahwa kualitas dari laporan keuangan auditan tersebut buruk. Lamanya proses penyelesaian audit dapat mempengaruhi audit delay dalam menyampaikan laporan keuangan auditan kepada publik sehingga dapat berdampak buruk terhadap reaksi pasar (Hesti, 2011) serta menyebabkan ketidakpastian dalam hal pengambilan keputusan ekonomi khususnya bagi pengguna laporan keuangan. Pentingnya penyelesaian laporan keuangan auditan telah ditekankan dalam peraturan UU no 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal dan Keputusan Ketua BABEPAM no 80/PM/1996 tentang kewajiban penyampaian laporan keuangan berkala. Perbincangan mengenai audit lag menjadi semakin menarik dimana beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui faktor penyebab maupun dampak atas lag audit itu sendiri. Untuk memaksimalkan respon pasar terhadap pengumuman laba perusahaan maka akan sangat disarankan bagi perusahaan untuk tidak membuat lag audit menjadi lama karena hal tersebut akan berpengaruh pada lemahnya respon pasar yang cenderung menganggap laporan keuangan auditan yang diterbitkan terlalu lama akan memiliki kandungan informasi yang rendah.

Untuk mengidentifikasi fenomena audit lag dalam proses audit suatu laporan keuangan selayaknya tidak hanya melihat dari sisi internal perusahaan selaku klien audit namun juga dari sisi auditor selaku partner audit. Audit lag tidak hanya berhubungan dengan kondisi auditor namun juga berhubungan dengan kondisi tata kelola perusahaan karena dua pihak ini saling berkaitan dalam proses audit laporan keuangan. Ilaboya (2014) menguji hubungan antara mekanisme corporate governance dengan audit report lag di Nigeria. Dalam penelitiannya ditemukan bahwa perusahaan yang memiliki ukuran lebih besar dengan komite audit yang lebih banyak akan memiliki audit report lag yang lebih singkat. Komite audit memiliki peran dalam membuat perusahaan melakukan pengungkapan dengan tepat waktu (Li et.al (2008) and Persons (2009). Perusahaan dengan skala usaha yang besar mampu menggunakan tekanan yang lebih besar kepada auditor untuk memulai dan menyelesaikannya secara tepat waktu (Dyer and McHough (1975), Carslaw and Kaplan (1991)). Reputasi auditor juga memiliki pengaruh yang berarti dalam mempersingkat audit report lag di Nigeria (Ilaboya (2014)).

Keterlambatan waktu penerbitan laporan keuangan auditan atau audit delay merupakan dampak dari audit lag dimana perusahaan harus mampu mengestimasi waktu yang efisien untuk melakukan proses audit laporan keuangan. Oleh karena itu peran serta dewan komisaris sangat penting dalam hal ini. Ilaboya (2014) menemukan bahwa terdapat pengaruh negatif dari ukuran dewan komisaris terhadap audit report lag di Nigeria. Temuan tersebut sependapat dengan hasil penelitian dari Nehme et.al (2015) yang menemukan pengaruh positif signifikan dari ukuran dewan komisaris terhadap audit report lag di UK. Selain ukuran dewan komisaris, Hehme et.al (2015) juga menemukan bahwa independensi komite audit serta profitabilitas perusahaan mampu meminimalisir lag dalam audit. Moghaddam et.al (2014) menambahkan beberapa faktor yang mempengaruhi audit report lag yaitu rasio utang, tobin q dan struktur kepemilikan perusahaan. Dalam penelitiannya, Moghaddam et.al (2014) mampu membuktikan bahwa independensi dewan komisaris tidak berpengaruh pada audit report lag di perusahaan go Public Tehran. Hal ini selaras dengan hasil penelitian dari Nehme et.al (2015) yang menemukan hal yang sama pada perusahan di UK.

Beberapa karakteristik corporate governance telah dibahas dalam penelitian terdahulu untuk menganalisa efeknya terhadap audit report lag. Pentingnya mengendalikan audit report lag juga telah diuji dalam penelitian Chang-Hyun Bae (2015) yang menemukan bahwa Audit Report Lag dan discretionsary report lag memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesalahan peramalan analis perusahaan baik pada peramalan 6 bulan, 3 bulan maupun 1 bulan sebelum tutup buku perusahaan di Korea. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa audit report dapat menyebabkan interpretasi yang salah terhadap pengumuman laba akuntansi suatu perusahaan. Untuk menghindari interpretasi yang salah maka diperlukan peran auditor untuk memverifikasi segala informasi yang terkandung dalam laporan keuangan perusahaan. Namun audit itu sendiri jangan sampai menjadi alasan penundaan pelaporan keuangan sehingga prosesnya harus optimal sesuai dengan alokasi waktu yang efisien. Dengan kata lain auditor juga memiliki peran dalam menentukan durasi waktu atau lamanya waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku/akhir tahun fiskal hingga tanggal diterbitkannya laporan keuangan auditan disebut sebagai audit lag. Penelitian yang dilakukan Ho-Young Lee & Geum-Joo Jahng (2008) telah membahas faktor auditor dan hubungannya dengan audit report lag Di Korea. Penelitian tersebut membuktikan bahwa faktor yang berkaitan dengan auditor yang terdiri dari biaya non audit dan jenis opini audit mempengaruhi audit report lag. Tidak seperti penelitian Chang-Hyun Bae dan Yong-Sang Woo (2015), penelitian ini membuktikan bahwa tidak terdapat pengaruh dari audit tenure terhadap audit report lag di Korea.

Penelitian ini ingin mengaitkan persoalan audit report lag dengan sisi corporate governanve dan sisi faktor terkait auditor yang merupakan akulturasi penilitian yang dilakukan oleh Ilaboya (2014) dan Ho-Young Lee & Geum-Joo Jahng (2008). Corporate governance menjadi isu yang akan selalu hangat di kalangan perusahaan di negeri ini dimana Indonesia memiliki fenomena peningkatan ranking yang dilihat dari Corporate Governance Watch Market Ranking yaitu meningkatnya nilai Indonesia dari 37 poin menjadi 39 poin di Tahun 2014. Dalam fenomena ini menjelaskan bahwa pandangan pasar atas tata kelola perusahaan di Indonesia semakin baik dan apakah fenomena ini berkaitan dengan audit report lag di Indonesia?

Tabel 1.1 Skor Corporate Governance Asia 2014

Menurut catatan Global Competitive Index 2014-2015, Indonesia mengalami kenaikan peringkat dari peringkat 38 menjadi 34 dari daftar negara paling kompetitif di Pasar Dunia dalam kurun waktu 1 tahun terakhir. Kenaikan tersebut juga diikuti dengan meningkatnya dunia pasar modal di Indonesia dan ketika bicara pasar modal maka auditing menjadi bagian yang ikut sejalan dengan pasar modal. Berdasarkan catatan Asosiasi Internal Auditor diketahui bahwa jumlah auditor di Indonesia meningkat sebesar 28% pada Tahun 2015. Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa meningkatnya persaingan auditor akan memancing peningkatan kompetensi di kalangan auditor sehingga penelitian ini juga ingin mengaitkan beberapa faktor terkait auditor dengan audit report lag yang ada di Indonesia.

Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini ingin mengidentifikasi audit report di Indonesia dan hubungannya dengan faktor internal corporte governance dan faktor eksternal terkait auditor. Dalam penelitian ini corporate governance menggunakan proksi yang digunakan dalam penelitian Ilaboya (2014), Nehme et.al (2015) dan Moghaddam et.al (2014) yang terdiri dari ukuran dewan komisaris, independensi dewan komisaris, jumlah rapat dewan komisaris, ukuran komite audit, independensi komite audit dan jumlah rapat komite audit. Selanjutnya faktor eksternal terkait auditor menggunakan proksi yang digunakan dalam penelitian Ho-Young Lee & Geum-Joo Jahng (2008) diantaranya biaya audit abnormal, biaya non audit, Big4, audit tenure dan opini audit. Selain kedua faktor tersebut, penelitian menggunakan variabel kontrol yaitu ukuran perusahaan dan profitabilitas perusahaan karena pada penelitian sebelumnya Ilaboya (2014) Ho-Young Lee & Geum-Joo Jahng (2008) : Chang-Hyun Bae & Yong-Sang Woo (2015), Moghaddam et.al (2014) diperoleh bukti bahwa kedua variabel tersebut memiliki kaitan terhadap audit report lag. Fokus penelitian ini adalah perusahan pertambangan di Indonesia. Bidang pertambangan memiliki fenomena yang menarik dimana menurut harian tempo menyebutkan bahwa terjadi efisiensi belanja modal sebesar minimal 30 persen pada awal 2016 padahal pada tahun 2015 menurut Managing Director PT Accenture Indonesia Management Consultant Lee Vee Meng yang mengatakan bahwa terjadi pembengkaakan modal kerja dalam perusahaan migas yang merupakan akibat dari pengelola yang cenderung menyembunyikan informasi atas proyek yang dikerjakan. Menanggapi hal tersebut dapat dilihat dengan kasat mata bahwa Industri pertambangan mengambil langkah yang cepat dalam menangani permaslahan bisnis sehingga sektor ini sangat menarik untuk di teliti.

Berpijak pada hasil penelitian yang telah didiskripsikan beserta research gap dan fenomena bisnis yang mendukung maka peneliti akan melakukan penelitian tentang “ Pengujian Audit Report Lag pada Industri Pertambangan Indonesia Melalui Mekanisme Corporate Gonernance (Dewan Komisaris dan Komite Audit) dan Faktor Terkait Auditor ”

Perumusan Masalah

Berdasarkan research gap pada penelitian terdahulu, maka dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

  1. Apakah Ukuran Dewan Komisaris memiliki pengaruh terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia?
  2. Apakah Independensi Dewan Komisaris memiliki pengaruh terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia?
  3. Apakah Frekuensi Rapat Dewan Komisaris memiliki pengaruh terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia?
  4. Apakah Ukuran Komite Audit memiliki pengaruh terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia?
  5. Apakah Independensi Komite Audit memiliki pengaruh terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia?
  6. Apakah Frekuensi Rapat Komite Audit memiliki pengaruh terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia?
  7. Apakah Biaya Audit Abnormal memiliki pengaruh terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia?
  8. Apakah Biaya non Audit memiliki pengaruh terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia?
  9. Apakah Auditor Big 4 memiliki pengaruh terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia?
  10. Apakah Opini Audit memiliki pengaruh terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia?

PEMBATASAN MASALAH

Berdasar latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan untuk mengkaji beberapa variabel yang terkait dengan upaya mengendalikan audit report lag, maka penelitian ini dibatasi pada variable audit report lag dan hubungannya dengan penerapan corporate governance yang dibatasi menjadi 6 indikator yaitu ukuran dewan komisaris, independensi dewan komisaris, jumlah rapat dewan komisaris, ukuran komite audit, independensi komite audit, jumlah rapat komite audit seperti pada riset yang dilakukan oleh Ilaboya (2014), Nehme et.al (2015) dan Moghaddam et.al (2014). Selain Corporate Governance, Penelitian ini juga mengkaji hubungan antara audit report lag dan faktor terkait auditor yang dibatasi menjadi biaya audit abnormal, biaya non audit, Big4, audit tenure dan opini audit seperti pada riset yang dilakukan oleh Ho-Young Lee & Geum-Joo Jahng (2008). Subjek penelitian ini juga akan di batasi hanya pada perusahaan Sektor Pertambangan yang tercatat pada BEI dengan data observasi Periode 2010 hingga 2015.

TUJUAN PENELITIAN

  1. Tujuan Umum

       Penelitian ini bertujuan untuk mencari penyelesaian dari riset gap tentang pengaruh corporate governance yang terdiri dari ukuran dewan komisaris, independensi dewan komisaris, jumlah rapat dewan komisaris, ukuran komite audit, independensi komite audit, jumlah rapat komite audit terhadap audit report lag serta pengaruh faktor terkait auditor yang terdiri dari biaya audit abnormal, biaya non audit, Big4, audit tenure dan opini audit terhadap audit report lag dan sekaligus ingin mengetahui lebih lanjut variabel-variabel apa yang dapat mempengaruhi efisiensi modal kerja tersebut.

  1. Tujuan Khusus

        Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan khusus penelitian ini adalah:

  1. Menganalisa pengaruh Ukuran Dewan Komisaris terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia.
  2. Menganalisa pengaruh Independensi Dewan Komisaris terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia.
  3. Menganalisa pengaruh Frekuensi Rapat Dewan Komisaris terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia.
  4. Menganalisa pengaruh Ukuran Komite Audit terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia.
  5. Menganalisa pengaruh Independensi Komite Audit terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia.
  6. Menganalisa pengaruh Frekuensi Rapat Komite Audit terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia.
  7. Menganalisa pengaruh Biaya Audit Abnormal terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia.
  8. Menganalisa pengaruh Biaya non Audit terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia.
  9. Menganalisa pengaruh Auditor Big 4 terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia.
  10. Menganalisa pengaruh Opini Audit terhadap Audit Report Lag perusahaan sektor Pertambangan di Indonesia.

Manfaat Penelitian

  1. Manfaat Ilmiah

Penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan alasan perbedaan hasil penelitian mengenai pengaruh corporate governance dan faktor terkait auditor terhadap audit report lag yang dilakukan oleh Ilaboya (2014), Nehme et.al (2015) dan Moghaddam et.al (2014), Ho-Young Lee & Geum-Joo Jahng (2008).

  1. Manfaat Praktis

       Sebagai bahan pertimbangan dan tambahan informasi dalam menyusun strategi pengelolaan kauangan, khususnya yang berkaitan dengan penerapan prinsip good corporate governance dan faktor terkait auditor agar mampu mendorong tercapainya kinerja bisnis yang optimal melalui pengendalian audit report lag sehingga kualitas laporan keuangan menjadi semakin baik dan mendukung keputusan investasi dari para pengguna informasinya.

Leave a Reply

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE